
ANDAI SAJA ITU SELAMANYA
Di sebuah rumah yang cukup mewah, tinggal seorang anak yang berumur 15 tahun yang mempunyai keinginan, yaitu ia ingin orangtuanya merayakan ulang tahunnya. Tetapi sayangnya, kedua orangtuannya meninggal. Ia hidup bersama seorang pembantu atau asisten dari ayahnya yang sudah wafat.
Di suatu malam, Tania ingin tidur lebih cepat. Entah mengapa dirinya seolah dibuat ngantuk oleh seseorang. Tanpa disadari besok adalah tanggal 32 Januari. Tepat ulang tahunnya Tania. Ia sudah tidur dengan lelap.
Saat Tania tidur, ia dikejutkan oleh seorang wanita yang cantik dan sangat berarti bagi Tania. Iya, dia adalah Bunda Tania.
“Bun.. Bunda..” sorak Tania.
“Selamat ulang tahun ya, sayang…” Ucap bunda.
“Tania dimana Bu, sekarang?” tanya Tania yang kebingungan dengan tempat yang dia lihat.
Bunda Tania mengajak Tania untuk mengelilingi tempat itu, mereka berjalan di suatu tempat yang mirip dengan taman.
Saat memasuki taman itu, Tania tersentak haru karena disana ada pria yang memakai jas kantoran yang sedang tersenyum dan memegang kue tart untuk Tania.
“Papa…”
Tania berlari dengan tangisan harunya menuju ke papa yang sedang menunggunya.
“Happy Birthday, Anak papa. Wish you all the best.” Ucap papa kepada Tania.
“Sekarang Tania make a wish dulu, setelah itu tiup lilinnya.” Ucap Bunda Tania.
“Tania sudah tidak punya harapan, harapan Tania hanya ingin bertemu papa dan bunda” ucap Tania yang terisak-isak.
“Hufff”
Papa da bunda bertepuk tangan setelah lilin yang ditiup Tania mati.
“Ikhlasin papa dan bunda ya, Nak. Kalau kamu kangen lihatlah bulan yang bersinar, karena kasih sayang papa dan bunda setara dengan bulan yang bersinar. Bahkan bisa lebih dari itu.” Ucap bunda yang sedang menangis.
“Maafkan kami belum bisa menemani kamu sampai besar. Tumbuh menjadi yang terbaik ya, Nak. Jangan lupa buat doakan papa dan bunda.” Ucap papa yang meneteskan air mata.
“Selalu sayang kita, Anakku. Jadilah orang yang baik.” Setelah papa mengatakan itu, papa dan bunda mencium keningku. Lalu melambaikan tangan kepadaku, seolah mereka ingin pergi meninggalkanku.
Setelah itu aku merasa bahwa ada yang menarikku dan aku kembali berada di kamar yang dimana itu tempat aku tidur tadi.
Tania menangis dan beberapa kali mengatakan,
“Papa… Bunda… Tania ingin bertemu lebih lama lagi…”
Di suatu malam, Tania ingin tidur lebih cepat. Entah mengapa dirinya seolah dibuat ngantuk oleh seseorang. Tanpa disadari besok adalah tanggal 32 Januari. Tepat ulang tahunnya Tania. Ia sudah tidur dengan lelap.
Saat Tania tidur, ia dikejutkan oleh seorang wanita yang cantik dan sangat berarti bagi Tania. Iya, dia adalah Bunda Tania.
“Bun.. Bunda..” sorak Tania.
“Selamat ulang tahun ya, sayang…” Ucap bunda.
“Tania dimana Bu, sekarang?” tanya Tania yang kebingungan dengan tempat yang dia lihat.
Bunda Tania mengajak Tania untuk mengelilingi tempat itu, mereka berjalan di suatu tempat yang mirip dengan taman.
Saat memasuki taman itu, Tania tersentak haru karena disana ada pria yang memakai jas kantoran yang sedang tersenyum dan memegang kue tart untuk Tania.
“Papa…”
Tania berlari dengan tangisan harunya menuju ke papa yang sedang menunggunya.
“Happy Birthday, Anak papa. Wish you all the best.” Ucap papa kepada Tania.
“Sekarang Tania make a wish dulu, setelah itu tiup lilinnya.” Ucap Bunda Tania.
“Tania sudah tidak punya harapan, harapan Tania hanya ingin bertemu papa dan bunda” ucap Tania yang terisak-isak.
“Hufff”
Papa da bunda bertepuk tangan setelah lilin yang ditiup Tania mati.
“Ikhlasin papa dan bunda ya, Nak. Kalau kamu kangen lihatlah bulan yang bersinar, karena kasih sayang papa dan bunda setara dengan bulan yang bersinar. Bahkan bisa lebih dari itu.” Ucap bunda yang sedang menangis.
“Maafkan kami belum bisa menemani kamu sampai besar. Tumbuh menjadi yang terbaik ya, Nak. Jangan lupa buat doakan papa dan bunda.” Ucap papa yang meneteskan air mata.
“Selalu sayang kita, Anakku. Jadilah orang yang baik.” Setelah papa mengatakan itu, papa dan bunda mencium keningku. Lalu melambaikan tangan kepadaku, seolah mereka ingin pergi meninggalkanku.
Setelah itu aku merasa bahwa ada yang menarikku dan aku kembali berada di kamar yang dimana itu tempat aku tidur tadi.
Tania menangis dan beberapa kali mengatakan,
“Papa… Bunda… Tania ingin bertemu lebih lama lagi…”
