Konyolnya Dunia dan Kursi Sultan

Konyolnya Dunia dan Kursi Sultan

Di sebuah kota kecil bernama Sentun, hiduplah seorang pria bernama Bambang. Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang penjaga parkir di depan warung kopi, tapi ia punya mimpi besar: ingin menjadi Sultan. Tidak ada alasan yang jelas kenapa ia ingin menjadi Sultan. Mungkin karena ia pernah melihat seorang Sultan di TV dengan jubah emas dan istana megah.
Suatu hari, Bambang menemukan sebuah kursi tua di pinggir jalan. Kursi itu tampak lusuh, kayunya sedikit lapuk, tapi dudukannya empuk. Di belakang kursi, tertulis dengan spidol merah: “Kursi Sultan”. Bambang terkejut. “Ini dia! Takdir sudah memilihku!”
Dengan penuh kebanggaan, Bambang membawa pulang kursi itu ke rumah kontrakannya yang sempit. Ia menaruhnya di tengah ruangan, duduk di atasnya, dan merasa seolah-olah ia benar-benar seorang Sultan.
“Kalau aku Sultan, aku harus punya pengawal!” serunya. Ia kemudian memanggil sahabatnya, Joko, seorang tukang tambal ban yang juga suka berkhayal.
“Joko, mulai sekarang kau adalah Panglima Kerajaan. Tugasmu melindungi istanaku ini!” kata Bambang sambil menunjuk rumahnya yang penuh dengan ember bocor.
Joko, yang juga tidak kalah imajinatifnya, langsung menerima tugas itu dengan serius. Ia mengambil sapu dari pojokan, mengacungkannya seperti pedang, dan berjanji akan setia pada “Sultan Bambang”.
Kabar tentang “Sultan Bambang” menyebar dengan cepat di lingkungan sekitar. Orang-orang tertawa, tapi mereka juga penasaran. Beberapa tetangga datang membawa persembahan, seperti mie instan dan kopi sachet, sebagai tanda penghormatan kepada sang Sultan.
Suatu hari, seorang pejabat desa mendengar kisah aneh ini. Ia datang ke rumah Bambang dengan wajah serius. “Pak Bambang, Anda tidak bisa sembarangan mengaku sebagai Sultan. Ini bisa berbahaya.”
Bambang, yang sudah benar-benar merasa seperti Sultan, menjawab dengan tenang, “Negaraku adalah rumah kontrakanku. Rakyatku adalah tetanggaku. Kalau mereka mengakuiku sebagai Sultan, siapa yang bisa melarang?”
Pejabat desa menghela napas panjang. “Baiklah, kalau begitu saya ingin melaporkan jalan rusak di depan rumah Anda, wahai Sultan. Bisakah Anda mengeluarkan dana kerajaan untuk memperbaikinya?”
Bambang terdiam. Ia melihat dompetnya yang hanya berisi beberapa lembar uang lusuh dan satu koin seribuan.
“Rakyatku,” katanya, “Mungkin kita butuh iuran kerajaan.”
Mendengar itu, semua orang tertawa terbahak-bahak. Begitulah dunia, konyol tapi penuh kejutan. Esoknya, kursi tua itu hilang entah ke mana. Tapi Bambang tetap menjadi Sultan di hati rakyatnya, setidaknya sampai ia menemukan ide konyol berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *